Ayam KQ Lima
Waktu menunjukan ku harus cepat pulang karena semalam tadi ada yang berpesan bahwa hari ini dia mau mengajakku keliling kota purwakarta ini.
Sesampainya aku dikoss yang berlokasi tidak jauh dari tempat kerjaku. Aku rebahkan tubuh yang rasanya pegal bukan main. Karena di outlet purwakarta ini omset yang dicapai luar biasa. Pantas saja banyak yang tidak ingin di rolling ke outlet ini. Rasanya lebih enak di bandung saja. Tapi ku sudah terlanjur mengajukan diri ke purwakarta ini. Ada beberapa alasan yang membuatku sampai di kota ini. Aku ingin menenangkan diriku disini. Meski lebih pantas disebut "menyibukan diri".
Klik klik. Suara telfon pintarku berbunyi menandakan ada pesan chat yang masuk. Kuabaikan sejenak hingga akhirnya ada suara yang lebih panjang berdering. Ada telfon masuk. Kuabaikan juga suara itu karena aku enggan mengangkatnya. Hingga chat pun masuk berkali-kali. Baiklah, akhirnya aku membacanya. "Udah pulang?km dimana?" Dan pesan lain sebagainya yang kubaca dengan perasaan kesal. Dia janji untuk bertemu dan menjemputku pulang, namun kutunggu tak ada kabar darinya. Jadi, kuacuhkan saja pesan darinya. Tapi dikarenakan perut berasa mengalunkan lagu keroncong akhirnya kusuruh dia mengantarku mencari makanan.
Sesampainya dia di kossan ku langsung naik ke atas motornya tanpa bicara apapun. Dan dia memulai pembicaraan "Maaf ya tadi ga ada quota, aku baru dari bekasi dulu. Ini kita mau makan kemana" lalu kujawab "bebas. Kan kamu yg udah lama disini. Aku gatau daerah sini. "
Dan dia membawaku ke sebuah tempat makan yang menyajikan berbagai olahan ayam. Nama tempatnya "Ayam KQ 5".
Ya seperti orang makan pada umumnya. Kita cari tempat kosong, pesen makanan, nunggu jadi, ngobrol-ngobrol jaim. Ya begitulah kencan pertama kali yang sebenernya ga terlalu direncanakan sih, mengingat di purwakarta ini mall pun tak ada. Sedih.
Selesai makan, ngobrol dan bersenda gurau dengan candaan yang agak kriuk menurutku, akhirnya kita pulang. Tio mengantarku pulang ke kossan. Dan begitulah "KENCAN PERTAMA" kita yang selalu menggelikan jika dibahas.
Siapa?
"I don't even know why i like you, i just do it. And i still like you though you a mistake"
-
"Kamu kenapa sekarang aneh banget, ada oranglain?" Ucap pria disebrang telfon.
"Apaan si? Enggak. Udah ya aku cape mau istirahat" lalu kututup pembicaraan itu.
"Siapa yang nelfon?" Tanya pria disampingku.
"Hmm biasa. Pacar aku marah-marah muluk. pusing. Diputusin ga mau" jawabku
"Ooooh" dengan suara datar
"Apa kabar si bu bidan? Baik?" Tanyaku
"Apaan sih. Udah engga" jawabnya
"Masa sih? Kan udah tunangan?!" Gurauku
"Enggaaak" jawabnya kesal
-
Kamu membawaku terlalu jauh. Hingga aku larut dalam kesalahan ini.
Gagal Tunangan
Pagi pun seperti bukan pagi di kota ini. Tak ada sejuk-sejuknya. Ku duduk di halaman belakang tempat kerjaku sembari kulihat dia dari kejauhan. Kulihat dia sedang sibuk menelfon, entah dengan siapa dia berbicara yang jelas membuatku sedikit kesal saat itu. Mungkin pacarnya pikirku. Tak lama dia menghampiriku dan memberi telfon mengisyaratkanku untuk berbicara dengan seseorang dibalik telfon itu.
"halo?" Tanyaku
"Assalamualaikum nada ya?" Seperti suara keibuan dari ujung telfon lantas kumenebak-nebak apakah ini ibunya?
"Walaikumsalam, Oh iya bu" jawabku sedikit malu
"Nada udah lama kenal sama adjie?" Tanya ibu tersebut. Adjie? Oh mungkin tio yang dia maksud.
"Belum, baru kurang lebih hampir sebulan. 'Nada pindahan baru disini dari bandung bu." terangku
"Oh iya, adjie sering cerita tentang nada"
"Oh iya ibu. Ibu sehat?" Tanyaku sedikit random. Karena ku amat sangat bingung harus bicara apa lagi.
Setelah bercakap-cakap dan ibu menutup telfonnya lalu ku kembalikan lagi telfon pada dia yang berada dihadapanku yang sedang menerka isi percakapanku dengan ibu.
"Kamu ko tiba-tiba ngasihin gitu sih. Aku kaget. Aku gatau harus ngomong apa" kesalku pada tio.
Dia lantas tertawa cekikikan melihat sikapku yang salah tingkah.
"Ibu pengen kenal kamu" jawabnya.
"Kok bisa sih? Kan kamu udah punya tunangan" tanyaku
Lalu dia menjelaskan "ibu tadi telfon aku, dia nanyain aku disini deket sama oranglain ga? Ibu suruh aku cari lagi yang lain jangan sama yang di tegal itu" jelasnya
"Ah masa sih? Tapi kamu udah ceritain semua-semuanya tentang aku kan? Termasuk masa lalu aku." Tanyaku penasaran.
"Udah. Udah semuanya. Ibu bilang ga apa-apa asal tulus sama aku. Lagian kan anaknya masih satu hehehe" jawab dia sambil mencubit pipiku.
Oke. Baiklah. Tenang nada tenang. Jangan terlalu seneng. Bisa jadi dia bohong. Oke. Jangan senyum-senyum sendiri. Pipiku hangat. Merah ga? Duh aku mulai gila.
Di ruang tengah malam itu
Suasana teduh dengan hembusan angin sepoy-sepoy sore itu. Kusampai di rumahnya. Ratusan kilometer ku tembus demi menuju rumahnya. Tak disangka ku disambut dengan hangat disana.
Senja pun hilang. Hari berganti malam. Diruang tengah kala itu, bapak dan ibu tio mengajakku berbicara. Dari ucapannya, agak sedikit serius. Ya, bapak menanyakan perihal hubunganku dengan anak kedua nya itu.
"Da, nada serius sama anak bapak?" Tanyanya
"Serius gimana pak? Ya serius pak." Jawabku
"Iya kan kalian pacaran bukan hanya mau pacaran, pasti ada kedepannya. Kalau bapak sama ibu sih jujur walaupun nada pertama kali kesini tapi denger dari cerita-cerita adjie. Bapak ibu setuju sama nada" jawab bapak
"Kalau nada sih gimana tio aja pak. Yang jelas sejauh ini nada jalan sama tio sih serius pak"
"Iya kalau gitu bapak ada rencana mau ke rumah nada. Mau silaturahmi ke rumah nada. Kenal sama keluarga nada. InshaAllah mau melamar nada sekalian. Tolong sampaikan sama ayahnya nada ya?" jelas bapak.
Seketika jantungku seperti berhenti sepersekian detik. Aku mengontrol sedikit raut mukaku. 'Jangan terlalu kesenengan' ucapku dalam hati.
"Oh iya pak nanti nada sampaikan ke papa" sambil kulirik dikit ke arah tio yang sedang menahan tawa melihat sikapku.
Tak kusangka awal pertemuanku dengan calon mertua seperti ini. Rasanya seperti di negeri dongeng.
Menikah?
"Iya da, menikah dulu aja ya langsung supaya bapak sama ibu tenang dan gak bolak-balik bandung brebes. Tolong sampaikan sama papa, gimana kalau langsung akad dulu aja?" Tanyanya dari sebrang telfon.
Tak sanggup ku berkata-kata dengan todongan seperti itu. Langsung kusampaikan pesan itu pada papa. Dan papa menerimanya dengan perasaan bahagia. Karena anaknya sebentar lagi akan menikah. Dan itu minggu besok. Baik nada itu cukup untuk mengurus segala urusan selama sepekan ini.
12 November 2017. Rombongannya datang. Hatiku semakin tak karuan. Sudah kumpul semua keluarga besar kami, penghulu, para tetangga serta para jajaran staf RT/RW nya di ruang keluarga.
Terdengar alunan ayat suci dibacakan oleh bapak ustadz yang datang, dilanjut dengan sambutan kedua belah pihak hingga akhirnya terdengar suara pak penghulu dan akad pun di mulai. ijab kabul kamu lafal dengan gagahnya. lagi-lagi aku tak menyangka bahwa kamu yang akan menjadi pendamping hidupku dengan sebutan suami. Setelah terdengar suara "SAH" aku keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Disana tio memberiku senyumannya disambut oleh papa mama yang memelukku haru. Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan berbincang mengenai persiapan resepsi di bulan February mendatang. hingga sore pun tiba, bapak dan ibu harus pulang lagi ke brebes.
Sungguh cepat rasanya kebahagiaan ini datang bertubi-tubi. Tak disangka awal tatapan di bulan mei dihadiahi akad di awal november. Semoga Allah tak jenuh memberiku hadiah yang tiada hentinya. Alhamdulillah.