Sabtu, 02 Desember 2017

DRAMA


Tidak hanya satu dua hambatan yang harus dilalui demi mencapai kata SAH dari pak penghulu dan para saksi. Namun banyak sekali drama yang harus dilalui satu persatu oleh kami.

Date & Time
Sudah menjadi hal yang biasa dalam sebuah pernikahan itu mencari tanggal yang baik. Terkadang adat daerah yang memaksa kita untuk mencari tanggal yang tepat. Meski diawal agak kesulitan mencari tanggal. Alhamdulillah semua bisa terselesaikan.

Jobless
Sesaat setelah memutuskan untuk pindah ke bandung, kita harus mencari pekerjaan baru disini. Bukan hal yang mudah untuk para perantau seperti tio. Namun usaha tidak mengkhianati hasil. Alhamdulillah meski panas hujan harus dilalui tapi semua terbayar dengan sebuah pekerjaan.

Sidang
Ya setelah ditentukannya tanggal tunangan, kumulai sibuk dengan urusan perceraian yang dulu belum sempat diselesaikan meskipun berpisah dengan ex sudah lama. Alhamdulillah tio mengerti dan menemaniku disetiap prosesnya. Jarak tempuh menuju pengadilan agamapun terlampau sangat amat jauh. Berasa rekreasi. Dan memang sepulang sidang seringnya kita mampir sana sini dulu. Alhasil semua beres sesuai perkiraan.

Family ex
Ini yang agak ngawur menurutku. Sebelum menikah, statusku single parents with one little loveboy. Susah untuk memberi pengertian kepada keluarganya mantan bahwa aku akan segera menikah. Terlebih sang mama mertua yang masih sayang sama mantan menantunya ini. Mama seringkali menangis dan selalu bilang mama masih sayang mba nada, mama belum bisa lepasin dan lain sebagainya. Disatu sisi aku bersyukur itu tandanya dulu aku menjadi menantu yang baik dan yang terpenting aku di ridhoinya. Meski sebenernya aku kesal memberinya pengertian terus menerus. karena bagaimanapun aku akan menikah dengan yang inshaAllah jauh lebih baik.

BrokenHome
Bukan rahasia umum dengan status broken home dirumah ini. Mama papa sudah lama memutuskan untuk pisah sejak 5thn silam. Agak sedikit sulit menyatukan beberapa pikiran serta pendapat yang ada. Terlebih mama pun sudah punya keluarga barunya. Namun Alhamdulillah dengan dukungan keluarga besar, semua bisa terselesaikan. Jadi ketika some bitches say if my family is broke dan  aku terpuruk. It's a wrong babe. Sorry disini baik-baik aja dan aku bukan hanya punya keluarga besar tapi aku punya keluarga yang berhati besar.

Jumat, 01 Desember 2017

Ceritaku, Ceritamu, Cerita kita.


Berawal dari tatap

Mei tanggal satu tahun 2017. Kumenuju kota yang teriknya mengalahkan planet venus yang katanya panasnya mampu membakar tanaman yang ada. Purwakarta. Kota kecil penuh cerita. Ya, cerita kita. 

Malamnya aku menuju tempatku akan bekerja. Hanya sekedar mampir, karena besok aku mulai bekerja ditempat itu. Sang manager tempatku bekerja menghampiriku yang sedang duduk di meja luar, kami berbincang-bincang tentang jobdesk yang akan aku lakukan ditempat itu. Tak sengaja kumenatap seorang pria yang sedang sibuk membuat adonan di dalam sana. Dia pun melihatku. Lalu Kubalik menatapnya tajam seperti adegan di ftv, sinetron atau entahlah semacamnya. Ya begitulah aku dulu, selalu terlihat jutek oleh beberapa orang. Apalagi ini tempat akan ku bekerja. Aku harus punya sedikit jarak terhadap mereka yang akan menjadi tim ku nanti. Supaya mereka jalani setiap tugas yang kuberikan, tidak seenaknya dan terlalu akrab padaku. 
Tak lama manager menyela perhatianku. Beliau menelfon seseorang, yang ternyata crew didalam sana. "De, tolong panggil tio suruh kesini" entah apa yang mereka obrolkan dari balik telefon itu. Aku hanya tersenyum pada orang itu dari luar sini seperti mengisyaratkan bahwa 'aku tau kamu yang lagi bertelfon dengan manager di depanku ini.' Lantas telfon di tutup. Managerku bilang "orangnya gamau kesini" akupun heran "orangnya? Orang siapa?" Managerku melanjutkan ucapannya "Ada yang mau kenal sama kamu sebelum kamu kesini dia udah nanya-nanyain tentang kamu. Tuh orangnya di dalem" sambil menunjuk seorang pria. Oh! Ternyata pria yang tadi aku perhatikan. Sebut saja dia Tio. Tio seorang crew tim Back of house atau lebih mudahnya tim kitchen disana. Akupun hanya tersenyum pada managerku dan tak menghiraukan ucapannya. 

Sekedar intermezo, pada saat itu aku masih menjalin hubungan dengan seorang pria di bandung dan memutuskan untuk LDR. Entah bisa atau tidak kujalani saja.





Ayam KQ Lima

Waktu menunjukan ku harus cepat pulang karena semalam tadi ada yang berpesan bahwa hari ini dia mau mengajakku keliling kota purwakarta ini.
Sesampainya aku dikoss yang berlokasi tidak jauh dari tempat kerjaku. Aku rebahkan tubuh yang rasanya pegal bukan main. Karena di outlet purwakarta ini omset yang dicapai luar biasa. Pantas saja banyak yang tidak ingin di rolling ke outlet ini. Rasanya lebih enak di bandung saja. Tapi ku sudah terlanjur mengajukan diri ke purwakarta ini. Ada beberapa alasan yang membuatku sampai di kota ini. Aku ingin menenangkan diriku disini. Meski lebih pantas disebut "menyibukan diri".

Klik klik. Suara telfon pintarku berbunyi menandakan ada pesan chat yang masuk. Kuabaikan sejenak hingga akhirnya ada suara yang lebih panjang berdering. Ada telfon masuk. Kuabaikan juga suara itu karena aku enggan mengangkatnya. Hingga chat pun masuk berkali-kali. Baiklah, akhirnya aku membacanya. "Udah pulang?km dimana?" Dan pesan lain sebagainya yang kubaca dengan perasaan kesal. Dia janji untuk bertemu dan menjemputku pulang, namun kutunggu tak ada kabar darinya. Jadi, kuacuhkan saja pesan darinya. Tapi dikarenakan perut berasa mengalunkan lagu keroncong akhirnya kusuruh dia mengantarku mencari makanan.

Sesampainya dia di kossan ku langsung naik ke atas motornya tanpa bicara apapun. Dan dia memulai pembicaraan "Maaf ya tadi ga ada quota, aku baru dari bekasi dulu. Ini kita mau makan kemana" lalu kujawab "bebas. Kan kamu yg udah lama disini. Aku gatau daerah sini. "
Dan dia membawaku ke sebuah tempat makan yang menyajikan berbagai olahan ayam. Nama tempatnya "Ayam KQ 5".
Ya seperti orang makan pada umumnya. Kita cari tempat kosong, pesen makanan, nunggu jadi, ngobrol-ngobrol jaim. Ya begitulah kencan pertama kali yang sebenernya ga terlalu direncanakan sih, mengingat di purwakarta ini mall pun tak ada. Sedih.

Selesai makan, ngobrol dan bersenda gurau dengan candaan yang agak kriuk menurutku, akhirnya kita pulang. Tio mengantarku pulang ke kossan. Dan begitulah "KENCAN PERTAMA" kita yang selalu menggelikan jika dibahas.




Siapa?

"I don't even know why i like you, i just do it. And i still like you though you a mistake"

-
"Kamu kenapa sekarang aneh banget, ada oranglain?" Ucap pria disebrang telfon.
"Apaan si? Enggak. Udah ya aku cape mau istirahat" lalu kututup pembicaraan itu.

"Siapa yang nelfon?" Tanya pria disampingku.
"Hmm biasa. Pacar aku marah-marah muluk. pusing. Diputusin ga mau" jawabku
"Ooooh" dengan suara datar
"Apa kabar si bu bidan? Baik?" Tanyaku
"Apaan sih. Udah engga" jawabnya
"Masa sih? Kan udah tunangan?!" Gurauku
"Enggaaak" jawabnya kesal
-

Kamu membawaku terlalu jauh. Hingga aku larut dalam kesalahan ini.





Gagal Tunangan

Pagi pun seperti bukan pagi di kota ini. Tak ada sejuk-sejuknya. Ku duduk di halaman belakang tempat kerjaku sembari kulihat dia dari kejauhan. Kulihat dia sedang sibuk menelfon, entah dengan siapa dia berbicara yang jelas membuatku sedikit kesal saat itu. Mungkin pacarnya pikirku. Tak lama dia menghampiriku dan memberi telfon mengisyaratkanku untuk berbicara dengan seseorang dibalik telfon itu.
"halo?" Tanyaku
"Assalamualaikum nada ya?" Seperti suara keibuan dari ujung telfon lantas kumenebak-nebak apakah ini ibunya?
"Walaikumsalam, Oh iya bu" jawabku sedikit malu
"Nada udah lama kenal sama adjie?" Tanya ibu tersebut. Adjie? Oh mungkin tio yang dia maksud.
"Belum, baru kurang lebih hampir sebulan. 'Nada pindahan baru disini dari bandung bu." terangku
"Oh iya, adjie sering cerita tentang nada"
"Oh iya ibu. Ibu sehat?" Tanyaku sedikit random. Karena ku amat sangat bingung harus bicara apa lagi.
Setelah bercakap-cakap dan ibu menutup telfonnya lalu ku kembalikan lagi telfon pada dia yang berada dihadapanku yang sedang menerka isi percakapanku dengan ibu.
"Kamu ko tiba-tiba ngasihin gitu sih. Aku kaget. Aku gatau harus ngomong apa" kesalku pada tio.
Dia lantas tertawa cekikikan melihat sikapku yang salah tingkah.
"Ibu pengen kenal kamu" jawabnya.
"Kok bisa sih? Kan kamu udah punya tunangan" tanyaku
Lalu dia menjelaskan "ibu tadi telfon aku, dia nanyain aku disini deket sama oranglain ga? Ibu suruh aku cari lagi yang lain jangan sama yang di tegal itu" jelasnya
"Ah masa sih? Tapi kamu udah ceritain semua-semuanya tentang aku kan? Termasuk masa lalu aku." Tanyaku penasaran.
"Udah. Udah semuanya. Ibu bilang ga apa-apa asal tulus sama aku. Lagian kan anaknya masih satu hehehe" jawab dia sambil mencubit pipiku.

Oke. Baiklah. Tenang nada tenang. Jangan terlalu seneng. Bisa jadi dia bohong. Oke. Jangan senyum-senyum sendiri. Pipiku hangat. Merah ga? Duh aku mulai gila.






Di ruang tengah malam itu

Suasana teduh dengan hembusan angin sepoy-sepoy sore itu. Kusampai di rumahnya. Ratusan kilometer ku tembus demi menuju rumahnya. Tak disangka ku disambut dengan hangat disana. 
Senja pun hilang. Hari berganti malam. Diruang tengah kala itu, bapak dan ibu tio mengajakku berbicara. Dari ucapannya, agak sedikit serius. Ya, bapak menanyakan perihal hubunganku dengan anak kedua nya itu. 
"Da, nada serius sama anak bapak?" Tanyanya
"Serius gimana pak? Ya serius pak." Jawabku
"Iya kan kalian pacaran bukan hanya mau pacaran, pasti ada kedepannya. Kalau bapak sama ibu sih jujur walaupun nada pertama kali kesini tapi denger dari cerita-cerita adjie. Bapak ibu setuju sama nada" jawab bapak
"Kalau nada sih gimana tio aja pak. Yang jelas sejauh ini nada jalan sama tio sih serius pak"
"Iya kalau gitu bapak ada rencana mau ke rumah nada. Mau silaturahmi ke rumah nada. Kenal sama keluarga nada. InshaAllah mau melamar nada sekalian. Tolong sampaikan sama ayahnya nada ya?" jelas bapak. 
Seketika jantungku seperti berhenti sepersekian detik. Aku mengontrol sedikit raut mukaku. 'Jangan terlalu kesenengan' ucapku dalam hati. 
"Oh iya pak nanti nada sampaikan ke papa" sambil kulirik dikit ke arah tio yang sedang menahan tawa melihat sikapku. 
Tak kusangka awal pertemuanku dengan calon mertua seperti ini. Rasanya seperti di negeri dongeng. 





Menikah?

"Iya da, menikah dulu aja ya langsung supaya bapak sama ibu tenang dan gak bolak-balik bandung brebes. Tolong sampaikan sama papa, gimana kalau langsung akad dulu aja?" Tanyanya dari sebrang telfon.
Tak sanggup ku berkata-kata dengan todongan seperti itu. Langsung kusampaikan pesan itu pada papa. Dan papa menerimanya dengan perasaan bahagia. Karena anaknya sebentar lagi akan menikah. Dan itu minggu besok. Baik nada itu cukup untuk mengurus segala urusan selama sepekan ini.

12 November 2017. Rombongannya datang. Hatiku semakin tak karuan. Sudah kumpul semua keluarga besar kami, penghulu, para tetangga serta para jajaran staf RT/RW nya di ruang keluarga.

Terdengar alunan ayat suci dibacakan oleh bapak ustadz yang datang, dilanjut dengan sambutan kedua belah pihak hingga akhirnya terdengar suara pak penghulu dan akad pun di mulai. ijab kabul kamu lafal dengan gagahnya. lagi-lagi aku tak menyangka bahwa kamu yang akan menjadi pendamping hidupku dengan sebutan suami. Setelah terdengar suara "SAH" aku keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Disana tio memberiku senyumannya disambut oleh papa mama yang memelukku haru. Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan berbincang mengenai persiapan resepsi di bulan February mendatang. hingga sore pun tiba, bapak dan ibu harus pulang lagi ke brebes.
Sungguh cepat rasanya kebahagiaan ini datang bertubi-tubi. Tak disangka awal tatapan di bulan mei dihadiahi akad di awal november. Semoga Allah tak jenuh memberiku hadiah yang tiada hentinya. Alhamdulillah.










Minggu, 12 November 2017

Sunyi, Sepi, Sendu.
Semua itu tak lagi ada semenjak kamu hadir di cerita hidupku. Kamu pemeran utama yang kutunggu. Yang berani membuktikan ucapan yang kutertawakan dulu.
Ya, kamu memintaku untuk menetap. Menetap selamanya. Kamu melamarku. Tidak hanya melamar. Kamu menikahiku! Semua begitu cepat hingga kulupa rasanya sendu. Semua yang tak mungkin, kamu buat menjadi mungkin. Proses yang begitu sulit dan menghabiskan waktupun kamu lalui tanpa mengeluh. Kamu temani aku disetiap prosesnya. Tak ada hentinya ku mengucap syukur kepada penulis skenario kehidupan ini. Sungguh diluar talar pemikiranku, kamu kini menjadi tuan di hati ini. Terimakasih Tio Adjie Nugraha, kamu pemenangnya.







Rabu, 31 Mei 2017

Pria Taurus



Setelah melewati masa sulit dan menggantungkan sebuah harapan kepada Sang pemilik semesta, akhirnya ku dipertemukan oleh seorang pria yang dapat memelukku tanpa jarak dan mencintaiku tanpa jeda.

Seorang pria berzodiak taurus pemilik mata bening dibalik kaca matanya itu, berhasil menghipnotisku. Tubuhnya yang tinggi serta proposional punya daya tarik tersendiri dimataku. Harum tubuhnya pun selalu memanggilku dikala rindu datang tanpa permisi. Dan akupun tak dapat menahan diri, dia terlanjur masuk dalam kehidupanku untuk menghapus sepi, membangun mimpi, memberi pelangi.  Pria berlesung pipi yang kini menjadi tuan dihati ini mempercayakan pelukannya untukku. Hingga akhirnya ku merasa seperti menemukan sebuah rumah baru.
Rumah dimana ku tidak hanya singgah namun ku tinggal dan menetap didalamnya.

Selasa, 16 Mei 2017

Segenggam harapan dalam pelukan tanpa jeda

Lagi lagi dan lagi. Berulang kali mencoba membuka pintu hati untuk oranglain namun berulangkali juga perasaan itu pudar dan menutup dengan sendirinya. Perasaan menggebu gebu yang datang diawal tanpa ada peringatan akan berakhir secepat mungkin. Pernah terpikir untuk mengubah alur kehidupan agar lebih menerima apa yang sudah tertulis dalam naskah dialog kehidupan. Namun semua tidak semudah menggenggam sebuah doa. Ada cerita yang berbeda dibalik roda harapan. 
Maaf untuk hal yang mengecewakan. Untuk hal yang tidak sesuai harapan. Cinta itu tergesa gesa. Hingga kita lupa bahwa tak selamanya yang kita harapkan akan terlaksana.  Akupun heran dengan suasana hati yang tak menentu ini. Mungkin aku terlalu nyaman dengan dinding yang kubuat sendiri untuk melindungiku sampai aku lupa rasanya nyaman dalam pelukan. Mungkin banyak yang meminta, tapi belum ada satupun yang bisa membuatku terdiam dalam pelukan. Aku rindu saat saat seperti itu. Saat kuterdiam dalam pelukan tanpa jeda, saat kuhitung detak jantung yang tak beraturan dan seketika lupa pada semesta. 
Kini aku hanya bisa berharap sang pencipta skenario ini mendatangkan genggaman yang pas dalam segi apapun. Ya. Aku tidak butuh sosok yang sempurna, cukup yang membuatku terdiam dalam pelukannya. Yang membuatku membuka pintu hanya untuknya dan membuatku berhenti cemas akan hal yang belum tentu terjadi. 

Rabu, 19 April 2017

Before

Before you falling in love with me, you must know about my past, my fears, my faves, my worst and most importantly you must know about my mood swing. You must learn how to handle, how to fight, how to argue and how to love me.

But, once you fall in love with that part of me, you can fall in love with my tender smile and warm embrace. You can fall in love with the way i'll warm your hands in mine. You can fall in love with the way i'll make you soup when you're sick and how I'll kiss you when your get downs. Fall in love with the way i laugh and everything I'll give to you. Although we'll never know what happened tomorrow, but i want when we're getting together, you love me with your hearts. I mean seriously. You can either fall in love with me as a whole or not love me at all. 

Rabu, 01 Maret 2017

Sendu dalam pelukan

Pagi ini ku terbangun.
Terbangun dalam suasana sendu.
Sendu yang datang tak tahu permisi
Sendu yang tak mudah hilang meski pemiliknya telah datang.
Ingin ku memeluk sendu di pagi ini.
Terkadang sendu itu indah.
Indah jika kau tak melebih lebihkannya.
Berlarut dalam sendu itu seperti sedang menikmati pemandangan dikala sore.
Tidak terlalu pagi dan tidak terlalu malam.
Tidak secerah pagi dan tidak segelap malam.
Semuanya cukup, pas dan apa adanya.
Itulah mengapa aku ingin memeluk sendu.
Karena sendu itu indah.